Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


    Bangkitnya nasionalisme suatu bangsa selalu dimulai dengan munculnya pendidikan tinggi. Di Indonesia, School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) yang merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mendapat kehormatan sebagai institusi pendidikan tinggi pertama di Indonesia yang akhirnya menjadi katalis bagi peristiwa revolusi nasional Indonesia yang akhirnya berakhir dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

     Sejarah kedokteran di Indonesia dimulai dengan wabah cacar yang terjadi di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Pemerintah kolonial mengeluarkan ketetapan Gubernemen No.22 pada tanggal 2 Januari 1849 yang memulai pendidikan dokter. Setelah itu, pada bulan Januari 1851, dibuka sekolah pendidikan kedokteran di Weltevreden. Sayangnya, gelar yang diberikan oleh pemerintah kolonial pada saat itu hanyalah “Mantri Cacar”

    Pada tahun 1898, sekolah “Mantri Cacar” ini diubah menjadi STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen). STOVIA ini memiliki lama pendidikan yang cukup panjang yaitu sembilan tahun dengan pusat pendidikan di Hospitaalweg (Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh nomor 26). Dua tahun pertama, calon dokter akan mempelajari Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar kegiatan belajar dan mengajar. Selanjutnya, pada tahun 1913, menyadari bahwa masih kurangnya jumlah tenaga dokter di Indonesia, dibuka juga sekolah kedokteran Nederlands Indische Artenschool (NIAS) di Surabaya.

    Untuk menciptakan kualitas lulusan dokter yang baik tentunya diperlukan rumah sakit yang berkualitas, oleh karena itu pada tahun 1919 didirikan rumah sakit pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis). Rumah sakit CBZ ini sekarang disebut dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM yang merupakan rumah sakit pendidikan siswa STOVIA. Selanjutnya, pada tanggal 5 Juli 1920 didirikan kampus di Jalan Salemba Raya nomor 6. Proses kegiatan belajar mengajar di STOVIA semuanya dipindahkan ke Jalan Salemba Raya nomor 6.

    Pada tahun 1927, sekolah STOVIA diganti namanya menjadi Geneeskundige Hooge School (GHS). Perubahan nama ini juga disertai dengan perubahan syarat masuk GHS yang semula adalah setingkat sekolah dasar (SD) sekarang harus memiliki gelar setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang disebut Algemene Middelbare School untuk masuk kedalam sekolah pendidikan dokter ini.

     Pada akhir tahun 1941, Perang Dunia ke-2 dimulai di Asia, Jepang melakukan serangan ke Asia Tenggara. Tentara kolonial Inggris dan Belanda di Malaysia, Filipina, Singapura, dan Indonesia semua tunduk kepada serangan tentara Jepang. Pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, bersama dengan itu ditutuplah semua institusi pendidikan tinggi di Indonesia termasuk Geneeskundige Hooge School (GHS). Setelah enam bulan ditutup, seorang mahasiswa kedokteran NIAS yang bernama Soejono Martosewojo bersama Dr. Abdul Rasjid mengajukan proposal kepada Prof. Ogira Eiseibucho yang menjadi Kepala Kantor Kesehatan Pemerintah Militer Jepang untuk membuka kembali sekolah pendidikan dokter di Indonesia. Proposal tersebut disetujui, dan akhirnya dibentuk komite pendidikan yang berisi komite pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran. Komite pengembangan kurikulum ini juga didukung oleh tokoh-tokoh mahasiswa seperti Koestedjo, Kaligis, dan Imam Soedjoedi.

    Pendidikan kedokteran di Indonesia dimulai lagi dengan diresmikannya sekolah Ika Daigaku pada tanggal 29 April 1943. Lembaga pendidikan kedokteran yang merupakan bentukan pemerintah Jepang ini diketuai oleh Prof. Itagaki. Namun, Ika Daigaku ini tidak bertahan lama, pada bulan Agustus 1945, bom atom dijatuhkan oleh tentara sekutu di kota Hirsohima dan Nagasaki disusul dengan penyerahan tanpa syarat kepada pihak sekutu. Hal ini akhirnya mengakhiri masa pendudukan Jepang di Indonesia.

    Setelah merdeka, pada bulan Februari 1946, Indonesia mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Perguruan tinggi ini tidak berlangsung lama karena setelah itu Belanda melancarkan agresi militernya. Perguran Tinggi Kedokteran Republik Indonesia yang diduduki ketika itu diganti namanya menjadi Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie. Status quo tetap dipertahankan sampai tanggal 2 Februari 1950 dimana setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda diadakan peleburan dari Perguran Tinggi Kedokteran Republik Indonesia dengan Geneeskundige Faculteit Nood-Universiteit van Indonesie menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

One thought on “Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s