PROGRAM EXPANDING MATERNAL AND NEONATAL SURVIVAL: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN MEMAHAMI KEBUDAYAAN LOKAL


Kesehatan ibu dan bayi adalah salah satu parameter penting dalam mengukur efektifitas layanan kesehatan di suatu negara. Salah satu cara mudah untuk mengukurnya adalah dengan menghitung jumlah kematian ibu dan bayi  Bahkan, salah satu indikator Millenium Development Goals adalah menekan angka kematian ibu menjadi 110 kematian per 100.000 kelahiran dan bayi menjadi 32 kematian per 1000 kelahiran bayi setiap tahunnya . Sayangnya, layanan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia masih jauh dari tingkat yang optimal sehingga target MDG tersebut terasa sangat sulit untuk kita capai. Bahkan, menurut Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia tahun 2007, 34 dari 1000 bayi di Indonesia meninggal, selain itu 228 dari 100.000 ibu meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi kelahiran1.

            Program Expanding Maternal and Neonatal Survival atau yang lebih populer disingkat EMAS adalah program yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi sebesar dua puluh lima persen pada tahun 2015. Program yang diusung oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, John Hopkins University,dan Budi Kemuliaan Health Institute ini dibiayai oleh Amerika Serikat melalui U.S. Agency for International Development. Meskipun Amerika Serikat telah menggelontorkan lebih dari 55 juta dollar amerika serikat untuk menyukseskan program ini2, ada beberapa alasan yang membuat saya pesimis bahwa rencana kerja ini dapat menurunkan lebih dari 25% angka mortalitas ibu dan bayi di Indonesia.

            Pertama adalah cakupan kerja program ini. Program ini hanya akan mencakup sekitar 150 rumah sakit dan 300 puskesmas di enam provinsi dengan jumlah kematian ibu dan bayi yang terbesar. Bayangkan, kurang dari 3% jumlah puskesmas yang ada di Indonesia yang menikmati program baru ini1. Untuk mencapai pengurangan sebesar 25% sesuai target awal program EMAS ini dibutuhkan efektifitas yang sangat tinggi yaitu pengurangan sebesar 82% dari kematian bayi di puskesmas-puskesmas yang dicakup oleh program ini, Tentunya sangat sulit untuk mencapai angka tersebut. Sebagai gambaran, negara Jepang saja yang memiliki tingkat kesehatan yang sangat baik saja masih memiliki angka kematian bayi sebesar 3 bayi per 1000 kelahiran3. Dengan cakupan program yang terbatas ini, target program sulit dicapai

            Kedua, program ini belum mempertimbangkan faktor-faktor budaya yang sangat berpengaruh terhadap angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Seperti kita ketahui, di Indonesia kebudayaan masih menjadi salah satu faktor yang mungkin dianggap lebih penting dibandingkan fakta-fakta medis. Sebagai contoh, pada masyarakat Nusa Tenggara Barat  ada suatu kebiasaan dimana ibu yang baru lahir harus mencari Balian (dukun beranak). Dukun beranak ini tidak memiliki pengetahuan medis formal sehingga sangat berbahaya apabila mereka membantu kelahiran bayi.  Apakah program EMAS ini telah mempunyai rencana untuk menghadapi kasus-kasus seperti ini dimana untuk mengubah perilaku dokter tidah hanya harus mengisi masyarakat dengan ilmu melainkan dokter harus juga culturally sensitive  agar tidak menyinggung perasaan masyarakat.

            Oleh karena itu, kompetensi pemahaman budaya harus dimiliki oleh setiap tenaga medis yang berperan aktif dalam program EMAS ini. Petugas medis harus sadar bahwa perubahan perilaku yang diharapkan di masyarakat adalah suatu hal yang multifaktorial, artinya banyak hal yang akan mempengaruhi keputusan akhir yang diambil oleh pasien. Tiga hal yang paling penting adalah pengetahuan,  kesamaan program dengan nilai-nilai yang dianut dan juga persepsi manfaat yang akan diperoleh dengan perubahan tersebut.  Selama ini kita hanya terfokus pada pendekatan kognitif namun melupakan nilai-nilai yang harus disesuaikan dari masyarakat itu sendiri. Sebuah studi yang dilakukan di Peru mencoba menerapkan hal yang sama, pada tahun 1999, Peru memiliki salah satu angka kematian ibu dan bayi yang terbesar di dunia4. salah satu alasan tingginya angka mortalitas ibu dan bayi adalah karena pemerintah tidak mengindahkan kebudayaan masyarakat lokal. Pada tahun 1999-2001 pemerintah Peru mencoba meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dengan memasukan komponen kebudayaan lokal dalam menyukseskan program layanan  bantuan melahirkannya. Setelah lahir, plasenta ibu diserahkan kepada keluarga sesuai dengan kebudayaan yang berlaku pada penduduk setempat. Hasilnya, partisipasi masyarakat meningkat sebesar 73%, angka yang luar biasa fantastis4.

            Oleh karena itu, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia terhadap program-program kesehatan yang dimiliki oleh pemerintah, layanan kesehatan Indonesia harus berubah dari knowledge-based health care service menjadi cultured-based health care service.

 

Daftar Pustaka

 

  1. Deparemen Kesehatan Republik Indonesia. Badan Penelitian dan Pnegembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar. 2007. hlm 40-4
  2. Jhpiego Leads New Program in Indonesia to Reduce Maternal Deaths by 25 percent. John Hopkins University News. Februari 2012.
  3. Aoshima K, Kawaguchi H, Kawahara K. Neonatal Mortality Rate Reduction by Improving Geographic Perinatal Care Center in Japan. J Med Dent Sci 011; 58:29-40
  4. The University of Melbourne. Reducing Maternal, Newborn and Children Deaths in the Asia Pacific.Melbourne University Press. Januari 2011. p.73-78

2 thoughts on “PROGRAM EXPANDING MATERNAL AND NEONATAL SURVIVAL: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN MEMAHAMI KEBUDAYAAN LOKAL

  1. Hehe…
    ulasan yang bagus. Secara teoritis. Tapi menurut saya yang bekerja satu tahun di daerah perifer, sesungguhnya yang lebih substansial adalah ketegasan kompetensi para tenaga kesehatan.
    pemerintah harus upgrade semua kebijakan. UU praktik kedokteran saja tidak cukup. Elemen lain seperti UU praktik keperawatan dan juga UU praktik kebidanan harus segera dikeluarkan.
    eksistensi dan pola kerja tim tiga profesi di atas yang akan bisa mengangkat secara signifikan kesehatan masyarakat. Karena bila diimbangi dengan penempatan yang tepat, sisi kultur masyarakat akan dengan mudah ter-followup dan kita bina berkelanjutan.akat. Selanjutnya tinggal pembenahan sistem. Baik itu sistem rujukan maupun yang lain. Bila itu bisa dilaksanakan maka

  2. Maaf terpotong.
    Bila itu dilakukan maka dengan sendirinya akan terbentuk kultur baru dengan afiliasi kesadaran medis yang tinggi. Masyarakat tidak perlu pandai, namun tetap dapat memahami sistemnya.
    Maka target apapun akan dengan sendirinya terpenuhi.
    Begitu opini saya. Belum sempat terwujud blog. Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s